Corona Bukan Aib, Stop Stigma Negatif

19.06 Maya Alter 0 Comments

Ping 4 Free - Penyebaran wabah virus corona atau covid-19 yang begitu cepat seolah menjadi momok bagi sebagian orang memiliki tingkat kepanikan yang tinggi. Sehingga paparan virus asal Wuhan, China ini terkesan menjadi bagi para korban. Ini sangat memprihatinkan.

Lebih dari itu, rasa manusiawi pun kadang luput ketika seseorang sudah parno dengan covid-19. Sebagai contoh, korban meninggal akibat corona di Lampung sampai dua kali ditolak warga untuk dimakamkan di wilayah mereka. Melalui tulisan ini, Eva Suci Ramadhani mencoba mengembalikan nurani kita sebagai manusia. 

Corona
Ilustrasi | Foto: Detik.com
Makin hari jumlah pasien makin meningkat, para ahli mengatakan jumlah yang sebenarnya sudah berkali-kali lipat dari yang diumumkan. Karena masih sangat sedikit orang yang di test, jauh dibandingkan dengan jumlah warga Indonesia. Artinya dimungkinkan banyak ODP, PDP, dan positive corona yang berkeliaran diluar sana. Ini fakta yang harus kita terima. 

Namun, satu hal yang perlu kita ingat. Virus ini bukanlah aib, ketika merasa diri ada gejala yang mirip corona, baru datang dari luar kota atau luar negeri sampaikanlah berita apa adanya. Semakin cepat ditangani, maka semakin cepat bisa disembuhkan, dan yang terpenting tidak menularkan kepada orang lain.

Berapa banyak kita lihat berita tenaga medis yang akhirnya perlu diisolasi karena ketidakjujuran pasiennya, dan yang baru saja terjadi di Makasar seorang dokter meninggal dunia karena pasiennya tidak terbuka. Sampai saat ini ada 31 tenaga medis yang sudah gugur terkena virus corona. Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un

Angka ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara yang banyak anggota medisnya meninggal akibat virus ini. Ketika kita tidak bisa membantu orang lain, setidaknya jangan merugikan orang lain. Ini perlu kerjasama kita semua, jangan menimbulkan stigma negatif mengenai virus corona. 

Virus ini memang berbahaya, namun bukan aib, kemungkinan sembuh cukup besar, cukup banyak pasien yang terkena virus dan akhirnya bisa sembuh bahkan tanpa diberi obat. Mereka hanya perlu mengisolasi diri, istirahat cukup, makan makanan bergizi, olahraga, minum vitamin, dan tingkatkan imunitas.

Tapi bukan berarti juga jadi menggampangkan dan meremehkan, bagaimanapun kita tetap perlu waspada. Karena setiap orang punya respon imun yang berbeda, sehingga bisa jadi tidak punya ketahanan yang sama.

Dan akan jauh lebih fatal ketika yang terkena virus ini adalah seseorang yang berusia lanjut, orang dengan imunitas rendah, dan orang dengan riwayat penyakit tertentu. Itulah kenapa kita perlu dirumah saja, demi kita semua. Agar tidak tertular dan menularkan. 

Corona / Covid-19 bukanlah aib, stop stigma negatif. Maka jangan takut berlebihan ketika kita mengetahui kampung sebelah atau bahkan tetangga kita ada yang terkena virus tersebut. Jangan takut berlebihan apabila ada pasien corona yang meninggal dunia dan terpaksa harus dikuburkan di dekat rumah kita.

Dan jangan pula takut jika tenaga medis adalah tetangga kita. Kita justru dukung dan memberi semangat pada mereka, bukan malah menimbulkan stigma negatif. WHO sudah memberikan penjelasan bahwa jalur penyebaran utama dari virus corona adalah melalui droplets, tetesan yang disebarkan seseorang batuk atau bersin.

Maka cukup lakukan seperti instruksi yaitu #dirumahaja, lakukan physical distancing dan selalu gunakan masker jika terpaksa keluar rumah, hindari memegang bagian yang sering disentuh banyak orang, jangan sering menyentuh wajah dan seringlah mencuci tangan.

Stop stigma negatif, virus itu bukan virus yang mudah ngambang diudara trus menuju rumah kita. No! Jangan takut dan panik berlebihan, karena bisa menurunkan imun tubuh. Namun tetap waspada dan ikhtiar maksimal. Jangan meremehkan! Bekali diri kita dengan informasi yang akurat dan terpercaya.

Dan satu saran dari saya, jadikan diri kita ini takut menjadi sebab keburukan/ kerugian bagi orang lain. Insya Allah saya (kita) sehat, punya respon imun yang bagus terhadap virus corona (husnudzonbillah), tapi belum tentu dengan orang lain, orangtua kita, pasangan kita, anak-anak kita, sanak saudara kita dll. 

Maka ketika mindset itu ada dalam pikiran kita, rasa takut berlebihan insyaAllah tidak ada, yang ada adalah kita ikhtiar menjaga diri karena takut menjadi jalan keburukan bagi orang lain dan orang-orang yang kita sayangi. Setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban, maka lakukan yang terbaik yang kita bisa lakukan untuk berperan memutus rantai corona. 

Salam hormat saya pada semua tenaga medis, pada kalian yang sudah berjuang dengan sabar untuk tetap #dirumahaja, juga kepada para pejuang keluarga yang tetap perlu keluar menjemput rezeki. Semoga kita semua selalu sehat dan dalam lindungan Allah, dan corona bisa segera hilang agar kita bisa menyambut Ramadhan.

Barakallahu fiik..

Ditulis oleh Eva Suci Ramadhani 
Dipublikasikan, Rabu 8 April 2020

0 komentar: